Skip to content Skip to left sidebar Skip to footer




Euis Nia Setiawati

Penanggulangan Kasus Kemajiran Pada Ternak Sebagai Upaya Optimalisasi Kesehatan Reproduksi

Oleh Dr.drh Euis Nia Setiawati, MP

Sapi merupakan salah satu jenis ternak yang cukup digemari dan telah lama diusahakan petani  di  Indonesia,  khususnya ternak  sapi  potong  merupakan  ternak  penghasil  bahan makanan berupa daging yang memiliki kandungan protein tinggi serta mempunyai arti cukup penting  bagi  kehidupan  Masyarakat. Tujuan utama  beternak  adalah  untuk  menghasilkan ternak yang dapat tumbuh dan berproduksi cepat secara ekonomi. Pertumbuhan dan reproduksi, keduanya dikendalikan oleh kerja hormon. Supaya reproduksi tersebut efisien, semua hormon harus  berfungsi secara baik . Salah satu faktor yang dapat menyebabkan terjadinya  penurunan  kesuburan atau  kemajiran  pada ternak  adalah  ketidakseimbangan hormon reproduksi.

Kondisi  nyata  di  lapangan  /  di tingkat  peternak  masih  sering  terjadi  adanya  gangguan reproduksi  atau  gangguan  kesehatan  sapi betina,  tentunya     kondisi  tersebut     akan menurunkan tingkat kesuburan dan bahkan dapat menyebabkan kemajiran. Kesuburan (fertilitas} adalah  kemampuan sapi betina untuk bunting,  melahirkan anak hidup setiap 12 bulan. Sedangkan  kemajiran (ketidaksuburan) adalah keadaan dimana  seekor sapi betina hanya mampu melahirkan dengan jarak kelahiran lebih panjang dari 12 bulan. Istilah ini juga dipakai bagi sapi betina yang sulit menjadi bunting. Keadaan ekstrim dari kemajiran adalah sterilitas, dimana  sapi tidak mampu untuk bunting  sama sekali. Sapi yang steril biasanya dipotong  karena  merugikan  untuk  dipelihara,  kecuali  dimamfaatkan  untuk  tenaga  Tarik gerobak. Gangguan   reproduksi       adalah  berkurangnya kemampuan   individu         untuk menghasilkan  anak secara normal.

Kesalahan    pengelolaan    reproduksi   dapat    mendorong   terjadinya   penurunan kesuburan pada ternak , dan mengakibatkan kerugian. Dalam pengelolaan reproduksi ternak yang baik , dapat menghasilkan keuntungan yang besar, faktor produksi yang harus mendapat perhatian adalah pemberian pakan yang berkualitas baik dan cukup. Lingkungan serasi yang mendukung perkembangan ternak . Tidak menderita penyakit khususnya penyakit menular kelamin. Tidak menderita kelainan anatomi alat kelamin yang bersifat menurun, baik sifat yang berasal dari induknya maupun berasal dari pejantannya. Tidak menderita gangguan keseimbangan hormon khususnya hormon reproduksi konsentrasinya cukup  di dalam darah dan sanitsi yang memadai

Daya reproduksi yang baik  tanpa  ada  kasus  kemajiran dapat  meningkatkan efisiensi reproduksi. Tinggi  rendahnya  efisiensi  reproduksi ditentukan  oleh indeks  fertilitas  yaitu angka  kebuntingan   (conception  rate),  jarak  antar  melahirkan  (calving  interval),  jarak waktu antara  saat  melahirkan  sampai  bunting  kembali  (service  period),  jarak  waktu antara  saat  melahirkan  dengan  munculnya  birahi  yang pertama  (day  open),  angka perkawinan  per kebuntingan  (service per Conception),  angka kelahiran  (calving rate). Efisiensi  reproduksi  akan  meningkatkan  produktivitas  ternak  mereka,  berarti  memberi keuntungan   dan   pendapatan   yang   lebih   tinggi.    Sem ua   ini  tergantung    pada k em am puan  peternak    dalam  memahami  siklus  birahi,  gejala  birahi,  detek si birahi,  ransum  pakan,  cara pertolongan  kelahiran,  praktek beternak  yang baik , program vaksinasi, penanganan  pedet, pengelolaan  sapi dara, dan lain – lain.

Upaya  untuk  pencegahan  terhadap  kasus  gangguan  reproduksi,  perlu  adanya pemeriksaan   secara   rutin   setiap   bulan   pada   ternak  betina   oleh   petugas kesehatan  reproduksi    meliputi     pemeriksaan    melalui     eksplorasi     rektal, pengobatan  pada tiap induk yang menderita gangguan reproduksi, dan lain – lain . Pertumbuhan   dan   reproduksi,   keduanya   dikendalikan   oleh   kerja   hormon. Supaya reproduksi tersebut efisien, semua hormon harus berfungsi secara baik . Salah  satu  faktor  yang  dapat  menyebabkan  terjadinya penurunan  kesuburan atau   kemajiran  pada  ternak   adalah   ketidakseimbangan   hormon  reproduksi. Hormon reproduksi  adalah hormon  yang  mempunyai sasaran  akhir  pada  alat reproduk si   pada   alat   reproduksi .   Beberapa   teknologi   mutakhir   yang  telah diciptakan  meliputi  induk si  birahi,  penanganan   kasus  infertilitas,   inseminasi buatan,   super   ovulasi   dan  embrio  transfer ,digunakan untuk  meningkatkan efisiensi  reproduk si ternak dan mengatasi  gangguan  reproduk i.

Demik ian tulisan  ini disampaikan,  semoga ada  manfaatnya bagi praktisi peternakan dan para peternak dan dapat menambah perbendaharaan  keilmuan, sehingga  optimalisasi  efesiensi reproduk si ternak dapat meningkatkan populasi dan pada ahirnya pendapatan peternak  meningkat.

MENILIK FAKTOR PAKAN TERHADAP RERODUKSI SAPI

MENILIK FAKTOR PAKAN TERHADAP RERODUKSI SAPI

Oleh Dr. Drh Euis Nia Setiawati, MP

Reproduksi sangat menentukan keuntungan yang akan diperoleh usaha peternakan sapi. Inefisiensi reproduksi pada sapi betina dapat menimbulkan  berbagai kerugian seperti menurunkan produksi kelahiran anak sapi / pedet, produktifitas sapi produktif, meningkatkan biaya perkawinan dan laju pengafkiran sapi betina serta   memperlambat   kemajuan  genetik   dari sifat bernilai ekonomis. Banyak faktor yang mempengaruhi kinerja reproduksi individu sapi yang sering kali sulit diidentifikasi, bahkan dalam kondisi optimum sekalipun, proses reproduksi dapat berlangsung tidak sempurna disebabkan   kontribusi    berbagai   faktor, sehingga berpengaruh selama proses kebuntingan sampai anak terlahir dengan selamat. Memahami keterkaitan berbagai faktor dalam mempengaruhi fertilitas ternak, oleh karenanya menjadi hal esensial dalam upaya mengoptimalkan performa reproduksi setiap sapi betina dan usaha peternakan

Gangguan efesiensi reproduksi pada  petemakan  rakyat  lebih   banyak disebabkan oleh faktor pakan. Tingkat pemenuhan asupan pakan (energi) yang rendah sebelum beranak dan tinggi sesudah beranak menyebabkan tertundanya birahi pertama.   Kekurangan protein dalam ransum mengakibatkan  terjadinya  gangguan  reproduksi pada  temak  jantan    maupun    betina Temak. Kekurangan  protein menyebabkan timbulnya birahi yang lemah, birahi tenang, anestrus, kawin berulang, kelahiran anak yang lemah. K.ondisi ini akan lebih parah apabila dalam ransum tersebut juga terjadi kekurangan Calsium  (Ca) dan Phosfor (P)  dan akan  menyebabkan temak menjadi infertile.

Untuk mengoptimalkan kinerja reproduksi  tentu diperlukan    suatu  upaya  peningkatan efesiensi  reproduksi  induk  sapi   melalui pemberian  ransum  pakan  yang memadai,   terutama imbangan  TDN   dan  kandungan protein   serta  penerapan   teknologi   sederhana   yang  efektif agar mampu  mengatasi gangguan efesiensi reproduksi. Diharapkan  dengan pemberian ransumsesuai  dengan kebutuhan  sapi maka  akan  dapat  memacu  dan menormalkan   kembali  kadar hormon-hormon yang berperanan  didalam  siklus  reproduksi  sehingga sapi dapat  diharapkan terjadi estrus 2 – 3 bulan  post partus  kemudian, kasus sile nt heat dapat  dihilangkan dan angka konsepsi semakin  tinggi.

Kekurangan pakan, khususnya untuk daerah tropis   termasuk Indonesia merupakan salah satu  penyebab  penurunan  efesiensi  reproduksi, karena  selalu diikuti oleh adanya gagguann reproduksi menuju timbulnya kemajiran pada ternak betina. Pakan sebagai faktor yang menyebabkan gangguan reproduksi sering bersifat majemuk,  artinya kekurangan suatu zat dalam ransum pakan diikuti oleh kekurangan zat pakan lain.   Gangguan reproduksi pada induk dapat diperberat keadaannya bila selain kekurangan pakan juga dis ertai faktor penghambat antara lain cahaya matahari  yang kuat,   suhu kandang  panas, sanitasi rendah, keadaan lingkungan kurang serasi.  Produktivitas  ternak  selama  ini  diperkirakan  70%  dipengaruhi  oleh faktor  lingkungan, sedangkan 30% dipengaruhi oleh faktor genetik . Ketersediaan bahan pakan berupa hijauan untuk ternak  ruminansia di daerah tropik seperti Indonesia sangat fluktuatif tergantung pada musim. Sebagai solusi dari permasalahan ini, peternak memanfaatkan hijauan berkualitas rendah seperti jerami padi sebagai sumber pakan. Ruminansia yang diberi hijauan kualitas rendah membutuhkan rumen degradable protein (RDP) dan rumen undedradable protein (RUP) pada pakannya. RDP didegradasi sebagian besar menjadi amonia dalam rumen, kecukupan konsentrasi amonia dalam rumen diperlukan untuk pertumbuhan optimal mikrobia dan proses fermentasi. Suplai dari protein mikrobia  meskipun demikian  masih  kurang  mencukupi kebutuhan ternak sehingga  diperlukan suplementasi RUP yang tahan terhadap degradasi rumen dan membuat asa m amino tersedia untuk diserap di usus halus.  Degradasi protein dalam rumen dipengaruhi oleh tipe protein dalam  bahan pakan dan karakteristik asam aminonya, serta oleh metode pemrosesan dari bahan pakan tersebut. Bungkil kedelai merupakan salah satu sumber protein pakan yang memiliki tingkat degradabilitas tinggi dalam rumen, sehingga memiliki nilai biologis   yang   kurang  menguntungkan bagi ternak ruminansia karena perombakannya.

Ransum sapi yang memenuhi    syarat     ialah     ransum    yang mengandung  :   protein, karbohidrat,  lemak,  vitamin,  mineral,  dan  air dalam  jumlah  yang  cukup.  Kesemuanya dapat disediakan dalam bentuk hijauan dan konsentrat. Kebutuhan ternak terhadap jumlah pak an tiap hari tergantung dari jenis atau spesies, umur, dan fase pertumbuhan  ternak (dewasa, bunting, dan menyusui). Walaupun telah diberi pakan berupa hijauan atau kosentrat yang telah mengandung zat makanan yang memenuhi kebutuhannya, sapi masih sering menderita kekurangan vitamin, mineral dan bahkan protein, Keadaan ini dapat mengganggu pertumbuhan atau kesehatan sapi  sehingga untuk mengatasinya sapi dapat  diberikan pakan  tambahan. Oleh karena  itu pemberian pakan tambahan  yang baik  pada induk sapi   akan  sangat  berpengaruh terhadap pedetnya.

Demikian tulisan ini disampaikan, semoga menambah perbendaharaan kepustakaan bagi para peternak dan praktisi peternakan, dengan pemberian pakan yang sesuai dengan kebutuhan ternak, tentunya akan menghasilkan kinerja reproduksi yang optimal.

Kejadian  Escherichia coli  Pada  Pedet Dan Cara Mengatasinya

Kejadian  Escherichia coli  Pada  Pedet Dan Cara Mengatasinya

Oleh Dr. Drh Euis Nia Setiawati, MP

Diare pada anak sapi merupakan salah satu per m a sa l a han  ya ng  ser i us  da l a m  usa ha peternakan sapi perah. Tingginya kejadian diare dapat  mengakibatkan  kerugian yang  besar untuk peternak  karena meningkatnya biaya  untuk  pe ngoba ta n  ba hka n  m e ni m bul kan kematian. Diare dapat disebabkan oleh agen non infeksius maupun agen infeksius, yang salah sat unya yait u bak ter i E.coli serotipe enterotoksigenik ( enterotoxigenic E. coli, ETEC). Diare yang disebabkan oleh agen infeksius biasanya berkaitan dengan adanya ETEC, Cryptos – poridium parvum , virus rota, virus corona, atau beberapa kombinasi dari mikrob patogen tersebut.

Infeksi akibat ETEC dapat menimbulkan diare yang akut pada pedet sapi. Diare akibat ETEC ini dapat menimbulkan diare non  hemoragik yaitu pengeluaran cairan yang cepat, tidak ada perdarahan, dan kadang tidak disertai demam . Diare pada pedet sapi akan menunjukkan gejala klinis hewan mengalami depresi, letargi dan diikuti anoreksia, dehidrasi, suhu tubuh subnormal, kulit dingin, mukosa pucat, pembuluh darah kolaps dan apnea.

E. coli merangsang pengeluaran enterotoksin untuk mengaktivasi adenilat siklase yang terdapat di membran basolateral enterosit vili usus. Adenilat siklase yang teraktivasi akan meningkatkan produksi cyclic adenosin monophosphate  (cycl ic- AMP) di intrasel, sehingga menghambat penyerapan ion sodium dan air oleh enterosit vili usus.

Penggunaan antibiotik untuk  pengobatan  diare akibat  infeksi   E. coli  sudah berkurang efektifitasnya.  Penurunan efektifitas antibiotik tersebut karena munculnya resistensi antibiotik. Beberapa  jenis  antibiotik   yang mengalami resisten terhadap E.coli meliputi ampisilin, sefdinir, ko-t r i moksazol , kloksasillin,   eritromisin, linkomisin, penisilin, rifampisin, tetrasiklin dan vankomisin.

Diare akibat infeksi E. coli dapat  menimbulkan  banyak  kehilangan  cairan  maupun elektrolit dalam tubuh. Kehilangan cair an dan elektrolit yang parah dapat mengakibatkan hewan mengalami dehidrasi dan terjadinya ketidakseimbangan asam basa cairan tubuh . Dehidrasi  pedet  berbahaya  karena  dapat  menyebabkan  kehilangan cairan tubuh  yang berlebihan sehingga pedet  kehilangan elektrolit yang  penting  untuk metabolism pedet. Dehidrasi  yang  parah dapat  berlanjut  menjadi  asidosis  yang  kemudian  berujung  pada kematian.Pengebalan pasif menggunakan kolostrum sapi yang mengandung imunoglobulin G (IgG) anti  E. coli  (kolostrum  hiperimum) dapat  dijadikan salah satu  cara lain  untuk pengendalian kejadian kolibasilosis pada pedet sapi di lapangan.

Cara paling efektif untuk  mengatasi dehidrasi  adalah dengan  menggantikan cairan yang hilang. Berikut beberapa hal yang perlu diingat saat melakukan rehidrasi anak sapi:

  • Tempelkan dua jari ke  dalam mulut  anak  sapi  untuk melihat  apakah ia  akan menghisap. Jika anak sapi masih memiliki refleks menyusu, kemungkinan  besar ia hanya mengalami dehidrasi ringan dan dapat diberikan elektrolit oral.
  • Jika anak sapi mengalami dehidrasi yang  lebih parah, mereka tidak akan mampu berdiri dan matanya akan cekung. Jika hal ini terjadi, mereka memerlukan cairan infus.
  • Pastikan larutan  elektrolit  mengandung garam,  kalium,  sumber  energi  seperti glukosa, dan asam amino seperti glisin atau alanin . Ini akan memastikan produk melakukan tugasnya untuk merehidrasi betis secara efektif.
  • Siapkan botol terpisah untuk elektrolit dan obat-obatan, serta botol terpisah untuk kolostrum. Hindari penggunaan botol  atau selang secara bergantian dan pastikan untuk membersihkan dan mendisinfeksi peralatan makan setelah digunakan.
  • Lanjutkan pemberian elektrolit hingga pedet  berhenti  diare, meski terlihat sudah pulih, karena masih berpotensi mengalami dehidrasi.
  • larutan elektrolit dirancang untuk menggantikan elektrolit yang dengan cepat keluar dari tubuh  anak  sapi  akibat  diare. Pastikan memilih  produk yang  mengandung natrium klorida atau garam (NaCl), Kalium (K), sumber energi seperti glukosa, dan asam       amino       seperti       glisin       atau       alanin .       Bahan       lain       yang termasuk asetat atau propionat untuk   membantu    anak    sapi    mempertahankan natrium dan air, memperbaiki ketidakseimbangan elektrolit dan berpotensi mencegah asidosis.

Pengebalan pasif menggunakan kolostrum sapi yang mengandung imunoglobulin G (IgG) anti E. coli (kolostrum hiperimum) dapat dijadikan salah satu cara lain untuk pengendalian kejadian kolibasilosis pada pedet sapi di lapangan. Demikian     tulisan  ini  disampaikan  , semoga  bermamfaat  dan     dapat  menambah perbendaharaan wawasan   dalam penanganan pertama terhadap pedet  yang terinfeksi E.coli dan diare.

 

 

PENGOBATAN SYMTOMATIS PADA KASUS PENYAKIT MULUT DAN KUKU (PMK)  DAN RESPON KESEMBUHAN

PENGOBATAN SYMTOMATIS PADA KASUS PENYAKIT MULUT DAN KUKU (PMK)  DAN RESPON KESEMBUHAN

Oleh Dr.drh Euis Nia Setiawati, MP

PMK atau Penyakit mulut dan kuku merupakan salah satu penyakit hewan menular yang morbiditasnya tinggi dan kerugian  ekonomi yang ditimbulkan  sangat besar.  Penyakit ini disebabkan oleh virus tipe A dari keluarga Picornaviride,  dan virus ini dapat menyerang berbagai spesies hewan yang berkuku genap  (sapi, kerbau, kambing, domba, babi, dan rusa) Gejala klinis PMK yakni demam, air liur berlebihan, dan kepincangan. Gejala klinis lainnya yakni adanya vesikel dan perlukaan pada mulut, kaki, dan puting susu, hewan lebih senang berbaring, perdarahan/lesi pada mulut, pada seluruh teracak kaki dan suhu tubuh mencapai 40°C dan hewan sembuh 3-4 minggu setelah gejala klinis muncul.Penularan PMK dari hewan sakit ke hewan lain yang peka terutama terjadi karena adanya kontak langsung dengan hewan sakit, kontak dengan sekresi dan bahan-bahan yang terkontaminasi virus PMK, serta hewan karier. Penularan PMK dapat terjadi karena kontak dengan bahan/alat yang terkontaminasi virus PMK, seperti petugas, kendaraan, pakan ternak, produk ternak berupa susu, daging, jerohan, tulang, darah, semen, embrio, dan feses dari hewan sakit. Penyebaran PMK antar peternakan ataupun antar wilayah/negara umumnya terjadi melalui perpindahan atau transportasi ternak yang terinfeksi, produk asal ternak tertular dan hewan karier. Hewan karier atau hewan pembawa virus infektif dalam tubuh (dalam sel-sel epitel di daerah esofagus, faring) untuk waktu lebih dari 28 hari setelah terinfeksi sangat penting dalam penyebaran PMK.  Hewan yang terinfeksi tetap sangat lemah untuk jangka waktu yang cukup lama dan penyakit  PMK  ini  dapat menyebabkan  kerugian  dengan hilangnya  produktivitas secara permanen. Virus PMK sensitif terhadap pH, dan tidak aktif pada pH di bawah 6,0 atau di atas9,0.

Pengobatan   khusus   pada  kasus  PMK   belum diketahui,   namun   dapat  di  berikan pengobatan   untuk   mengurangi    gejala   klinis   dan mencegah    inf eksi  sekunder   seperti antipiretik,  antibiotik  dan vitamin.  Berdasar  laporan  lapangan  pemberian  kombinasi obat antipiretik, antihistamin, antiinf lamasi nonsteroid dan multivitamin  dan pemberian garam serta gula pada air minum sapi memberikan tingkat kesembuhan yang baik yang mencapai 97 % dan semua  gejala  klinis  hilang  pada  hari  ke  7 -14. Antibiotik   yang  digunakan  di antaranya Sreptamysin  penicilin, amoxcilin,  Cyproplksasin  dan trimetropin  sulf a. Antibiotik  diberikan untuk mencegah  inf eksi sekunder bakteri.  Lesi  akibat  virus  pada hidung dan sela  teracak adalah  luka terbuka yang mudah terinf eksi bakteri  apabila diberikan  antibiotik, akan lebih cepat  sembuh.  Antipiretik   yang  digunakan  adalah  obat  yang  mengandung   Metamiz o le Sodium  Monohydrate   , dypirone, obat ini memiliki  sif at pereda nyeri, penurun  panas dan antiradang.    Sapi      yang   mengalami   gejala   kaki   yang  berat,   pengobatan  ditambahkan antiinf lamasi nonsteroid sepeerti meloxicamdan dexametason   untuk mengurangi  peradangan dan meredakan nyeri pada extermitas   sapi. Vitamin  yang  digunakan  adalah  multivitamin dengan komposisi vitamin C untuk menjaga daya tahan tubuh, vitamin B kompleks ( vitamin B1, vitamin B2, vitamin B6, vitamin B12 ) guna meningkatkan energi serta menjaga kesehatan saraf , atau kalsium untuk mencegah tulang keropos , vitamin A meningkatkan imunitas ternak, vitamin D3 berperan dalam dif erensiasi dan maturasi sel dendrik yang berfungsi sebagai antigen presenting cell, sedangkan vitamin E dapat menstimulasi multipikasi dan peningkatan aktivitas sel limf osit yang dapat  berperan  melawan  virus ,  Vitamin  K  memiliki  peran  dalam proses pembekuan darah sehingga  luka lebih cepat sembuh. Keseluruhan   vitamin  yang  diberikan dapat meningkatkan   sistem  imun,  antioksidan,  meningkatkan   naf su makan dan membantu mengatur  metabolisme  badan. Premix  pakan yang diberikan  juga mengandung  vitamin  A, D,  E,  mikromineral   dan makromineral   yang  berf ungsi  juga  meningkatkan   sistem  imun ternak. Lepuh  pada kaki dikompres  dengan  H2O2    atau  dengan  cupri  sulf at/ terusi  2%, H2O2   memiliki   aktivitas   yang   baik  dalam   proses   penyembuhan   luka ,  menginduk s i f osf orilasi dalam jaringan  yang luka, terutama  dalam meningkatkan  proses pemulihan  luka . Ternak terpapar PMK diberikan nutrisi yang memadai  terutama protein, diberikan  minum air yang cukup guna mempercepat proses penyembuhan. Minum air putih yang cukup dapat membantu  mencegah  dehidrasi  yang dapat  memperlambat  proses penyembuhan  lepuh. Disamping itu dilakukan juga   pengobatan secara tradisional melalui pembuatan  ramuan jamu dari tanaman herbal sebagai cairan untuk dehidrasi yang disebabkan sulit minum dan karena demam, dan pengobatan suportif lainnya Kesembuhan   secara  klinis   dalam  waktu   7-14  hari  meliputi   naf su  makan  sudah kembali,  mata cerah, lesi   di mulut, hidung atau di sela teracak  sudah sembuh  dan hewan sudah lincah  seperti  biasanya.  Kesembuhan  secara  klinis  pada sapi yang terinf eksi  PMK dapat  terjadi  apabila  sapi ditanggani   dengan  cepat  dan  tepat  sehingga  gejala  klinis  tidak memperparah     inf eksi PMK,  sapi yang sembuh  dari PMK  dapat berperan  sebagai  carrier (mengeluarkan  virus dari f aring sampai lebih dari 2 tahun.

Desinf ektan  yang  digunakan   meliputi  untuk    Orang,Deter gen,   hydrochloric   acid, citric acid, untuk baju Sodium hypochlorite,  citric acid , Kandang (alat)Sodium  hypochlorit, calcium  hypochlorite,  virkon, sodium hydroxide  (caustic  soda, NaOH),  sodium carbonate anhydrous  (Na2CO3)  atau washing  soda (Na2CO3.10H2O) .  Untuk  lingkungan,air   dalam container   digunakan   Sodium   hydroxide  (caustic   soda,NaOH)   konsentrasi   2%,  sodium carbonate     anhydrous     (Na2CO3)     dengan     konsentrasi     4%    atau     washing     soda (Na2CO3.10H2O).    Sedangkan   untuk   karkas   (bangkai)   digunakan   Sodium   hydroxide (caustic soda, NaOH), sodium carbonate  anhydrous (Na2CO3.10H2O ),  Hydrochloric  acid, citric  acid.  Atau  dibakar/dikubur.   Zat-zat  aktif  tersebut  berperan  dalam  membunuh  virus dan dekontaminasi  lingkungan.  Penyemprotan  rutin desinf ektan pada ternak, area kandang dan lingkungan  kandang dapat mencegah  virus masuk kembali ke badan sapi dan penularan melalui sarana prasarana usaha peternakan .

Peranan Sumber Daya Usaha Dan SDM Peternak Terhadap Pengembangan Usaha Sapi Perah

Peranan Sumber Daya Usaha  Dan SDM Peternak Terhadap Pengembangan Usaha Sapi Perah

Oleh Dr. drh Euis Nia Setiawati,MP

Usaha ternak termasuk salah satu mata pencaharian masyarakat Indonesia yang sudah sejak lama dilakukan untuk  memenuhi kebutuhan pangan, baik daging, susu, telur, dan lainnya. Usaha ternak sapi dalam pemeliharaannya tentu memerlukan sebuah sumber daya untuk mendukung  pengembangannya, baik sumber daya alam maupun manusianya. Hal tersebut dapat mempengaruhi tingkat pendapatan dari peternak, sehingga berdampak pada tingkat kesejahteraan peternak. Sumber daya sangat diperlukan untuk keberlangsungan serta keberhasilan usaha  ternak, karena  semakin besar  akses peternak terhadap sumber  daya, menjadikan peluang pengembangan usaha ternak semakin besar.

Pengembangan usaha ternak sapi perah didukung oleh berbagai macam sumber daya, salah satunya ialah sumber daya internal  yang meliputi sumber daya finansial, teknologi, dan fisik. Sumber daya finansial merupakan sumber daya yang berhubungan dengan modal atau aset keuangan.  Sumber  daya  teknologi  merupakan  sumber  daya  yang  berhubungan  dengan adopsi, inovasi, dan implikasi pemanfaatan teknologi. Sumber daya fisik merupakan sumber daya yang berhubungan dengan sarana dan prasarana yang mendukung usaha ternak.

Kondisi lingkungan berpengaruh terhadap hidup ternak, karena kemampuan adaptasi ternak terhadap kondisi lingkungan tertentu tidak sama. Memperhatikan lingkungan sebelum memilih ternak perlu dilakukan supaya jenis ternak yang akan dibudidayakan dapat hidup dan

berproduksi  dengan  baik. Hal itu juga berlaku pada  usaha  ternak sapi perah,  yang mana memerlukan lingkungan yang khusus supaya produksi susu yang dihasilkan sesuai kuantitas dan  kualitas. Lingkungan yang  sesuai  dengan  sapi  perah  supaya  dapat  berkembang  dan berproduksi dengan baik yaitu pada daerah yang mempunyai ketinggian 750 -1200 mdpl dan kondisi suhu 13⁰C-18⁰C.

Susu merupakan produk utama dari sapi perah, jadi memperhatikan hal yang akan mempengaruhi   banyaknya   produksi    susu   sapi  sangat   penting   untuk   meningkatkan pendapatan peternak. Sapi perah mempunyai potensi  besar untuk dikembangkan sebagai usaha ternak, karena sapi perah dapat menghasilkan susu berkualitas. Susu adalah produk yang menyehatkan dan digemari oleh berbagai kalangan dari segi rasanya maupun kandunga n gizinya. Kandungan  gizi yang  dimiliki susu  hampir semua  dibutuhkan  oleh  tubuh  seperti protein, lemak, karbohidrat, mineral dan vitamin. Produk hasil utama dari usaha ternak sapi perah ini juga dapat digunakan sebagai bahan baku maupun bahan tambahan produk lain yang juga umumnya disukai masyarakat. Kebutuhan akan konsumsi susu juga menjadi prospe k yang baik terhadap usaha ternak sapi.

Usaha ternak dengan skala yang berbeda dari segi jumlah kepemilikan tentunya juga akan mempengaruhi besar kecilnya modal dan penghasilan. Perbedaan skala usaha ternak selain dari jumlah ternak yang dipelihara, sumber daya yang dimiliki dan pengoptimalan s umber daya juga berbeda. Sumber Daya Usaha Ternak Sapi Perah yang dikelola oleh peternak dengan berskala kecil biasa disebut dengan usaha ternak rakya t, umumnya manajemen yang ada masih terbilang sederhana sehingga berpengaruh terhadap produksinya.

Memiliki usaha di  sektor  peternakan dengan  tingkat usaha  kecil maupun besar,  tentunya sumber  daya  usaha  sangat  diperlukan  untuk keberlangsungan  serta  keberhasilan usaha. Sumber daya finansial, sumber daya teknologi, dan sumber daya fisik merupakan beberapa bagian dari sumber daya  usaha  ternak. Indikator  pembentuk  sumber  daya  finansial ialah pendapatan utama, pendapatan total untuk kebutuhan hidup, kepemilikan sapi pedet, kepemilikan sapi dara, kepemilikan sapi bunting, kepemilikan sapi laktasi, kepemilikan sapi periode kering, dan jumlah populasi sapi yang dipelihara. Indikator pembentuk sumber daya teknologi ialah pemilihan sapi indukan (bibit), teknologi pakan, perkandangan, dan teknologi peningkatan produksi susu. Indikator pembentuk sumber daya fisik ial ah sarana transportasi, penguasaan lahan, dan ketersediaan sumber pakan. Tiga sumber daya tersebut mempunyai peran yang penting bagi pengembangan usaha ternak karena semakin besar akses peternak terhadap sumber daya, menjadikan peluang  pengembangan  usaha  ternak yang dilakukan semakin besar.

Demikiann tulisan ini Disampaikan semoga menambah wawasan bagi palaku usaha peternakan sapi perah. Dalam hali ini kualitas SDM peternak berpengaruh terhadap kemampuan peternak dalam  mengakses sumber daya finansial, sumber daya teknologi, dan sumber daya fisik dalam menjalankan usaha peternakan sapi perah rakyat.

MENILIK GAYA BELAJAR, METODE PEMBELAJARAN DAN HASIL BELAJAR PESERTA PELATIHAN

MENILIK GAYA BELAJAR, METODE PEMBELAJARAN DAN HASIL BELAJAR PESERTA PELATIHAN

Dr. drh Euis Nia Setiawati, MP

        Keberhasilan   penyelenggaraan   program   pelatihan   dapat   dilihat   berdasarkan perspektif sistemik yaitu Pertama, input yang berkualitas berupa kurikulum, widyaiswara yang berkompeten, sarana prasarana yang mendukung. Kedua, proses penyelenggaraan pelatihan yang profesional mulai tahap perencanaan, pelaksanaan dan evaluasinya, dan yang Ketiga kualitas hasil belajar berupa knowledge, skill, dan attitude yang diperoleh saat pelatihan serta hasil belajar berupa produk seperti tulisan ilmiah, laporan dan sebagainya. Dalam pencapaian tujuan pelatihan beberapa faktor ini memiliki peran penting dalam mencapai hasil belajar peserta pelatihan yaitu terkait dengan widyaiswara yang kompeten dan metode pembelajaran yang sesuai. Pada umumnya Peserta yang mengikuti Pelatihan memiliki latar belakang beragam baik  bidang pendidikan, rentang usia dan sebagainya yang dapat mempengaruhi terhadap capaian suatu program pelatihan.

         Gaya belajar adalah cara mengenali berbagai metode belajar yang disukai yang mungkin lebih efektif bagi peserta didik. Gaya belajar yang dimaksud adalah memahami metode-metode dalam pembelajaran agar pembelajaran untuk peserta didik lebih efektif. Menurut Hamzah B. Uno  dalam  bukunya  yang  berjudul  “Orientasi Baru  dalam  Psikologi  Pembelajaran”  Gaya Belajar adalah kemampuan sesorang untuk memahami dan menyerap perlajaran sudah pasti berbeda tingkatnya ada yang cepat sedang dan ada pula yang sangat lambat. Oleh karena itu mereka sering kali harus menempuh cara berbeda untuk bisa memahami sebuah informasi atau pelajaran yang sama.

         Keberhasilan peserta dalam memgikuti proses pembelajaran selama pelatihan akan sangat dipengaruhi oleh faktor internal peserta terutama gaya belajar masing – masing yang merupakan karakter unik dari setiap peserta. Terdapat tiga model (type) dalam gaya belajar yaitu visual, auditori, dan kinestetik. Dimana pada hakikatnya setiap individu memiliki ketiga gaya belajar tersebut, namun hanya satu gaya yang biasanya mendominasi. Lebih lanjut Alan Pritchard (2009) mengungkapkan bahwa pembelajar dominasi visual lebih suka belajar dengan melihat dengan daya ingat visual yang kuat dan menggerakan tangan dalam mendeskripsikan sesuatu serta melihat keatas ketika berpikir. Pembelajar dominasi auditori lebih suka belajar dengan mendengarkan dengan memori yang kuat dalam mendengarkan cenderung sistematis dan ketika berpikir memiringkan kepalanya. Sedangkan pembelajar kinestetik lebih  suka belajar dengan melakukan, pandai mengingat peristiwa dan sangat menikmati aktifitas fisik. Visual Lebih cepat dengan melihat dan mendemonstrasikan sesuatu tidak terganggu dengan suara berisik berkemampuan menggambar dan mencatat sesuatu dengan detail memiliki kemampuan mengingat yang baik. Auditori Senang membaca dengan keras Lebih  suka bercerita dan mendengarkan cerita Mampu mengulang informasi yang didengarnya dengan detail Kinestetik Tidak suka baca petunjuk, lebih suka bertanya bergerak, lebih menyukai dengan permainan Menghafal dengan berjalan/membuat gerakan Tidak Latar  belakang pendidikan dan  keilmuan, serta pernah  atau tidaknya peserta menerima materi   pelatihan adalah salah satu diantara beberapa indikator yang memudahkan widyaiswara mata pelatihan dalam melakukan transfer knowledge di kelas.  Tidak semua peserta pernah menerima materi tertentu sebelumnya, baik itu di pelatihan teknis yang diikuti, maupun ketika menempuh pendidikan formal. Latar belakang yang berbeda-beda ini menjadi tantangan tersendiri bagi widyaiswara dalam melaksanakan proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran. Salah satu faktor pendukung keberhasilan pembelajaran adalah pada ketepatan mengidentifikasi gaya belajar peserta pelatihan. Gaya belajar ini nantinya akan diarahkan pada pemilihan metode pembelajaran yang sesuai, sehingga nantinya system delivery materi pelatihan, akan memudahkan peserta pelatihan dalam tercapainya tujuan pembelajaran.

         Pembelajaran orang dewasa adalah kegiatan belajar dipandang sebagai proses transformasi yaitu dalam bentuk mengubah, mempelajari kembali, memperbarui, dan mengamati. Peserta yang memiliki gaya belajar kinestetik lebih cenderung suka bertanya, tidak suka membaca petunjuk, lebih menyukai permainan, tidak terganggu dengan suara berisik, menghafal dengan membuat gerakan. Metode pelatihan yang paling disukai adalah dengan kombinasi diskusi dan praktik (35%). Sehingga di kelas pelatihan, pembelajaran tidak hanya terpusat pada widyaiswara. Pembelajaran dua arah yang melibatkan peserta, akan membantu peserta untuk memudahkan proses penyampaian materi. Beberapa karakteristik pembelajaran yang sesuai misalnya: peserta diminta untuk mendiskusikan metode pengolahan data sesuai dengan proposal dan rancangan penelitian yang sedang di desain, melakukan praktik pengolahan data dengan data-data yang telah dipersiapkan sebelumnya, melakukan demonstrasi untuk meyakinkan pada anggota kelompok lain tata cara pengolahan data yang benar, menjadi asisten praktikum bagi kelompok lain. Selain itu widyaiswara dalam proses pembelajarannya dapat dilakukan melalui pembelajaran kelompok-kelompok kecil, dengan membuat kelompok secara acak melalui games, membuat strategi pembelajaran melalui games.

         Dalam proses belajar mengajar, widyaiswara mengacu pada standar kompetensi dan tujuan pembelajaran yang sudah ditentukan, diharapkan bisa memilih model maupun sarana pembelajaran yang idealnya disesuaikan dengan karakteristik peserta   dan karakteristik mata pelajaran. Peran dan tugas widyaiswara dalam kegiatan pembelajaran antara lain menguasai dan mengembangkan materi pembelajaran, dan mempersiapkan program pembelajaran. Belajar Mandiri merupakan faktor internal peserta pelatihan yang pasif, artinya akan muncul dari akibat dampak langsung terciptanya kondisi lingkungan pembelajaran yang kondusif. Hal tersebut sesuai dengan paradigma yang menerangkan bahwa melalui desain pembelajaran yang berpusat pada peserta (learner centered instruction) merupakan bentuk pengkondisian. widyaiswara sebagai fasilitator dan komunikator dalam kegiatan pelatihan, memiliki peranan dalam kemajuan kemampuan para peserta pelatihan yang akan dikembangkan.

          Demikian tulisan ini disampaikan , semoga   dapat menambah pembendaharaan   kita dalam meningkatkan  yang bergelut dibidang pelatihan.  Gaya belajar, Kualitas dari materi pelatihan dan profesionalisme fasiitator merupakan hal yang perlu diperhatikan  dalam upaya mengoptimalkan manfaat dari pelatihan  atau Efektivitas Pelatihan dapat tercapai dengan optimal.

FAKTOR RESIKO RETENSI PLASENTA DAN DAMPAKNYA TERHADAP REPRODUKSI SAPI PERAH

FAKTOR RESIKO RETENSI PLASENTA DAN DAMPAKNYA TERHADAP REPRODUKSI SAPI PERAH

Oleh Dr.drh Euis Nia Setiawati, MP

        Produktivitas sapi perah sangat ditentukan oleh faktor genetik dan manajemen yang meliputi pengelolaan kesehatan, pakan, perkandangan, dan reproduksi individu. Pada mamalia, keberhasilan reproduksi mendukung peningkatan populasi dan produksi susu, karena produksi susu meningkat setelah partus. Penurunan keberhasilan (efisiensi) reproduksi yang pada akhirnya  ditandai pemanjangan  dengan bertambah  lamanya  interval  beranak  akan menurunkan total produksi susu. Gangguan reproduksi yang sering ditemukan dan mempengaruhi memengaruhi fertilitas dan produksi susu antara lain adalah retensi plasenta. Retensio sekundinarum merupakan suatu kegagalan pelepasan plasenta fetalis (vili kotiledon) dan plasenta induk (kripta karunkula) lebih dari 12 jam setelah melahirkan. Dalam keadaan normal kotiledon fetus biasanya keluar 3 sampai 8 jam setelah melahirkan. Retensi plasenta yang dibiarkan lama tanpa penanganan yang baik akan menimbulkan infeksi sekunder sehingga dapat menyebabkan terjadinya endometritis sampai tingkat pyometra yang parah. Hal ini disebabkan karena defisiensi hormon seperti oksitosin dan estrogen sehingga kontraksi uterus berkurang atau karena proses partus yang terlalu cepat.

          Kejadian retensi plasenta dapat mencapai 98% yang diakibatkan kurangnya Avitaminosa–A, karena kemungkinan besar vitamin A perlu untuk mempertahankan kesehatan dan resistensi epitel uterus dan plasenta. Periode postpartus dengan defisiensi vitamin A, D, dan E serta defisiensi mineral selenium, iodin, zink, dan kalsium dapat menyebabkan retensio sekundinae. Kondisi   infeksi pada uterus akan menyebabkan uterus lemah untuk berkontraksi, pakan (kekurangan karotin,vitamin A) dan kurangnya exercise (sapi dikandangkan) sehingga otot uterus tidak kuat untuk bekontraksi.

          Beberapa parameter efisiensi reproduksi adalah conception rate (CR) dan service per conception (S/C). Conception rate merupakan angka kebuntingan hasil inseminasi buatan (IB) pertama, sedangkan S/C merupakan jumlah layanan IB yang dibutuhkan untuk setiap kebuntingan. Kasus retensi plasenta dipengaruhi oleh sanitasi kandang, kualitas pakan, pengalaman peternak, dan proses partus (Islam et al., 2013). Sanitasi kandang yang buruk berpotensi meningkatkan insidensi retensi plasenta, karena kandang yang basah dan kotor mempermudah masuknya mikroba mikrob lingkungan ke dalam saluran. Kualitas pakan buruk dan jumlah terbatas dapat mengakibatkan hewan kekurangan nutrisi dan penurunan daya tahan. Faktor-faktor lain yang dapat menentukan kasus bobot induk (gemuk), paritas induk (4 atau lebih), bobot (besar) dan jenis kelamin (jantan) anak, kelahiran kembar, dan kualitas pakan jelek. Buruknya penanganan partus dan kebersihan kandang mempermudah bakteri lingkungan memasuki uterus dan menyebabkan endometritis . Begitu juga defisiensi vitamin A, D dan E, serta selenium, iodin, seng, dan kalsium pascapartus berkontribusi 16,55% terhadap retensi plasenta dan dapat berlanjut menjadi endometritis (Alsic et al., 2008). Retensi plasenta merupakan faktor utama penyebab endometritis; 58,7% sapi yang mengalami retensi plasenta berlanjut menjadi metritis, endometritis, atau piyometra (Han dan Kim ,2005). Han dan Kim (2005) dan Gafaar et al. (20010) yang menyatakan bahwa retensi plasenta dapat menurunkan CR dan memperbesar S/C, sehingga menurunkan efisiensi reproduksi. Leblacn (2008) menyatakan bahwa banyak faktor yang mempengaruhi kasus retensio sekundinarum pada sapi perah, salah satunya adalah peningkatan umur sapi perah. Semakin tua umur sapi perah maka resiko mengalami retensio sekundinarum semakin tinggi (Leblacn ,2008). Kejadian retensio sekundinarum lebih tinggi pada sapi perah yang berumur lebih dari tujuh tahun( Islam et al.,2012).

         Retensi plasenta dapat dipengaruhi oleh distokia, lahir kembar, aborsi, usia, paritas, infeksi, kekurangan gizi, gangguan hormonal (Islam et al., 2012); (Zubair and Ahmad, 2014). Kejadian retensio sekundinarum meningkat pada sapi perah yang berumur tua dengan periode kelahiran lebih dari empat ( Gaafar et al,. 2010). Kejadian retensio sekundinarum lebih tinggi pada sapi perah yang berumur lebih dari tujuh tahun. Induk sapi yang sudah tua kondisi alat reproduksinya sudah mengalami penurunan yang diakibatkan oleh penurunan fungsi endokrin (Hariadi et al., 2011).

           Sapi perah yang mengalami   retensio plasenta memiliki dampak negatif terhadap kinerja reproduksi ternak yaitu keterlambatan dalam perkawinan pertama, penurunan kebuntingan , peningkatan angka perkawinan per kebuntingan , calving interval yang lebih panjang dan jarak birahi postpartum diperpanjang. Retensio  plasenta dapat menimbulkan sejumlah masalah dengan memungkinkan mikroorganisme tumbuh dan menimbulkan peradangan, penurunan berat badan dan penurunan produksi susu. Saat penanganan kelahiran apabila karankula terputus maka terjadi perlukaan dan dengan adanya infeksi mikroorganisme maka dapat mengakibatkan terjadinya endometritis. Kasus retensi plasenta yang berat akan selalu diikuti dengan terjadinya peradangan seperti metritis, peradangan pada lapisan miometrium, dan peritonitis.

            Pengobatan yang digunakan untuk kasus Retensio plasenta pada sapi perah yaitu dengan cara pengeluaran plasenta secara manual dan pemberian antibiotik intrauterin sistemik. Penanganan dengan manual removal yaitu melakukan penarikan terhadap plasenta yang masih menggantung di bibir vulva, dimana teknik penanganan ini dilakukan secara hati-hati agar tidak menyebabkan perlukaan pada saluran reproduksi.

         Demikian tulisan ni disampaikan, semoga dapat memberikan informasi dan gambaran mengenai kasus retensio sekundinarum pada sapi perah, sehingga dapat digunakan dalam tindakan pencegahan terjadinya retensi plasenta yang berdampak terhadap birahi dan kebuntingan pada sapi perah.

PENANGANAN PADA SAPI  LAMBAT BERAHI PASCA BERANAK DAN HYPOFUNGSI OVARIUM

PENANGANAN PADA SAPI  LAMBAT BERAHI PASCA BERANAK DAN HYPOFUNGSI OVARIUM

Oleh  Dr.drh Euis  Nia Seiawati, MP

               Efisiensi  reproduksi  adalah salah satu faktor  terpenting  yang memengaruhi  usaha budidaya  sapi potong. Kondisi reproduksi  ideal yang diupayakan adalah mendapatkan satu anak perinduk setiap 12 bulan. Kondisi ideal tersebut tidak selalu dapat diwujudkan karena berbagai masalah yang mengganggu performans reproduksi  sapi. Anestrus postpartum (sapi lambat beerahi pasca beranak)   merupakan kondisi  ketiadaan estrus 60 hari  postpartum. Kondisi anestrus postpartum menjadi faktor penyebab utama perpanjangan interval kelahiran yang menimbulkan kerugian ekonomi. Kondisi anestrus dikaitkan dengan ovarium tidak aktif, sehingga  pertumbuhan  folikel tidak memungkinkan  folikel menjadi  cukup  matang  untuk diovulasikan. Anestrus postpartum dapat dipicu oleh status energi yang rendah , kekurangan protein, dan mineral. sapi induk dalam periode postpartum yang memperoleh pakan berenergi  rendah dan dengan kandungan protein yang rendah, sehingga tidak mencukupi kebutuhan  minimum untuk  mempertahankan kondisi  badannya. Kondisi  demikian secara nyata menekan proses sintesis dan pelepasan hormon gonadotropin  kelenjar pituitari, dan berakibat aktivitas ovarium terganggu. Implikasi nyata akibat kondisi tersebut adalah periode anestrus postpartum menjadi lebih lama daripada kondisi fisiologis yang normal .

         Pada peternakan dimana pola pemeliharaan sapi secara tradisionil, tentunya  sangat rawan pemberian pakan yang diberikan berkualitas rendah. Sapi yang diberi pakan yang mempunyai nutrisi  berkualitas rendah  sangat  berpengaruh  terhadap  keadaan reproduksi.   Kondisi di lapangan banyak ditemukan Sapi yang belum berahi lebih tiga bulan setelah beranak atau sapi lambat berahi setelah beranak. Berahi setelah beranak (estrus postpartum) pada sapi yang baik terjadi pada tiga bulan, dan induk sapi dapat beranak setiap tahun, sedangkan sapi yang tidak  berahi  minimal  empat  bulan  setelah  beranak  dinyatakan sapi  lambat  berahi  dan penyebab yang paling potensial adalah faktor pakan yang diberikan dan penyapihan anak.

            Pemeliharaan sapi yang tidak baik selama menyusui dapat menurunkan kondisi tubuh induk sapi  sampai di bawah kondisi  yang layak untuk  bereproduksi  dan menyebabkan fertilitas rendah sampai sapi menjadi infertile dan tidak berahi . Rendahnya status nutrisi yang diberikan berpengaruh sangat kompleks terhadap keadaan Reproduksi.  Pemberian pakan pada sapi setelah melahirkan yang mempunyai kandungan nutrisi rendah menyebabkan kerja hypofisi s dalam menghasilkan hormon reproduksi  lambat sehingga ovarium lamban kembali beraktivitas  dan  gonadotrophin   releasing  hormone  (Gnrh),  sehingga  follicle stimulating hormone (FSH) dan luteunizing  hormone (LH) yang dihasilkan oleh hypofisis rendah yang berakibat lama munculnya berahi postpartum.

            Ovarium tidak aktif adalah ovarium yang  tidak melakukan aktivitas pembentukan ovum, yang ditandai dengan permukaan ovarium yang halus. Ovarium yang tidak ada benjolan atau gelombang pada permukaannya menandakan tidak ada pertumbuhan folikel dan ovarium tersebut dinyatakan steril. Steril ada dua macam yaitu steril dan sub-steril. Kejadian pada ternak yang ovariumnya tidak mampu melakukan proses oogenisis ada dua macam yaitu yang disebabkan karena oleh faktor bakat atau genetik, sedangkan yang disebabkan faktor yang sangat ekstrim antara lain stres dan kekurangan nutrisi yang berat. Hipofungsi ovarium suatu kondisi dimana ovarium memiliki ukuran normal, tetapi tidak terdeteksi adanya folikel- folikel yang  tumbuh,  ditandai  oleh permukaan  mengadung  cairan (folikel). Kemungkinan penyebabnya adalah kurangnya pasokan nutrisi untuk proses fisiologis pembentukan folikel, proliferasi sel-sel granulosa dan pematangan oosit, juga konsentrasi  FSH dalam darah yang sangat rendah sehingga tidak mampu memicu perkembagan folikel. Sel telur yang dihasilkan ovarium  hipofungsi  pada  umumnya  fertilitasnya rendah  sehingga  sulit  atau  tidak  dapat dibuahi  walaupun  spermatozoa  berkualitas baik.  Ternak  yang  mempunyai  ovarium yang hipofungsi  pada  umumnya terjadi berahi  tenang (silent heat), berahi semu (berahi  tanpa ovulasi), siklus berahinya tidak teratur dan timbulnya berahi postpartum lambat. Gangguan reproduksi yang terjadi pada ternak yang mengalami hipofungi ovarium, menunjukkan adanya kesalahan mekanisme hormon reproduksi.  Kesalahan mekamisme dapat disebabkan ketidakseimbangan nutrisi, kondisi tubuh BCS yang tidak baik , lingkungan yang ekstrim dan stress.  Hipofungsi  ovarium dapat disembuhkan  secara terapi  dengan  singkronisasi  berahi menggunakan progesteron yang diberikan intravaginal atau progesterone  releasing intravaginal device. Perbaikan pakan sapi untuk ketersediaan yang berkesinambungan dalam jumlah dan keseimbangan nutrisi pada peternakan rakyat kecil .

             Usaha  memenuhi  keseimbangan nutrisi  untuk  proses  reproduksi,  perlu suplemen protein, vitamin, dan mineral yang memadai. Perbaikan pakan pada sapi yang mengalami gangguan reproduksi  akibat kekurangan  nutrisi,  harus  dilakukan dengan  hati -hati,  sebab terlalu banyak  maupun  sedikit  nutrisi  pakan  yang  diberikan,  akan  berpengaruh  negatif terhadap  perkembangan  folikel, yang  berakhi r terjadi  unoestrus.  Perbaikan nutrisi  yang diberikan kepada ternak harus diperhitungkan berdasarkan keseimbangan nutrisi yang baik termasuk kebutuhan vitamin dan mineral untuk mecukupi mekanisme koordinasi yang sangat kompleks antar nutrisi pada proses reproduksi.

          Demikian tulisan ini disampaikan, semoga dapat memberikan informasi dalam upaya mengatasi gangguan reproduksi pada sapi potong setelah melahirkan.

Faktor Predisposisi Penyakit Mulut dan Kuku  Pada  Kambing dan Domba

Faktor Predisposisi  Penyakit Mulut dan Kuku  Pada  Kambing dan Domba

Oleh : Dr. Drh Euis Nia Setiawati, MP

      Penyakit mulut dan kuku (PMK) merupakan penyakit akut yang sangat menular, dan sangat penting karena menyerang ternak ruminansia dengan seroprevalensi keseluruhan sebesar  11,48%.  Penyakit mulut dan kuku merupakan penyakit virus akut yang sangat menular pada  ruminansia,   berkaki belah dan babi  yang  ditandai  dengan anoreksia, demam, hipersalivasi, serta erupsi vesikular di mulut, puting  susu, dan kaki . Sapi lebih banyak terdeteksi terinfeksi PMK dengan seroprevalensi 14,48% daripada domba dengan  prevalensi  7,07%  dan kambing  sebesar 7,10%.  Penyakit PMK  ini  menghambat pertumbuhan dan reproduksi pada kambing dan domba . Virus PMK sensitif terhadap pH, dan tidak aktif pada pH di bawah 6,0 atau di atas 9,0.

        Faktor  risiko pada  kambing  dan  domba  yang berhubungan  dengan seropositif meliputi agroekologi, sistem produksi, umur, jenis kelamin, kontak dengan satwa liar, iklim, ras, interaksi dengan ternak lain, manajemen, dan sanitasi ternak. Faktor risiko yang sering dilaporkan antara lain: pembagian air atau pakan secara komunal , jenis sistem produksi ternak, jumlah anak kambing dan domba berusia hingga enam bulan yang ada di kandang, Faktor risiko tambahan yang teridentifikasi meliputi: jarak peternakan ke jalan utama , frekuensi pembelian ternak, hewan yang tinggal di daerah dengan riwayat PMK dalam 12 bulan  terakhir, dan  hewan  yang  dimiliki  oleh  pedagang  ternak.  Virus  memengaruhi beberapa  kelenjar hormon vital  seperti  hipofisis  yang  mengontrol  fungsi  metabolisme dalam tubuh.

       Virus  mempengaruhi  beberapa  kelenjar  hormon vital  seperti   hipofisis   yang mengontrol fungsi metabolisme dalam tubuh. Kerusakan yang ditimbulkan pada kelenjar- kelenjar tersebut dapat menyebabkan hewan menunjukkan gajala terengah-engah, gelisah, penurunan produksi, dan menyebabkan  hewan lemas. Pada sapi dan kambing, infeksi  pada  ambing dan  puting  susu  dapat  berkembang menjadi mastitis  yang  dapat menyebabkan  kehilangan puting  secara permanen,  sehingga  produksi  susu  menurun. Hewan yang  terinfeksi  tetap sangat lemah untuk  jangka  waktu yang  cukup  lama dan penyakit PMK ini dapat menyebabkan kerugian dengan hilangnya produktivitas secara permanen

          Beberapa faktor risiko PMK pada ternak kambing dan domba, yaitu spesies, ras, umur, jenis kelamin, dan asal hewan. Diketahui  bahwa kambing lebih rentan daripada domba, ras lokal paling tinggi seroprevalensinya, umur ternak dewasa lebih rentan terinfeksi PMK. Hal ini terjadi karena kambing dan domba dewasa lebih lama terpapar saat berada di peternakan dan di pasar hewan dibanding dengan hewan muda, sehingga hewan dewasa diperkirakan memiliki antibodi dari berbagai serotipe PMK, sedangkan padakambing domba muda, umumnya peternak lebih menjaga kondisi  hewan sehingga sedikit mengalami paparan.  Ternak kambing domba yang berasal daridalam peternakan lebih rentan terhadap penyakit PMK   dibandingkan hewan yang didatangkan dari luar peternakan.

            Demikian tuisan ini   disampaikan semoga  bermamfaat bagi  para  peternak   untuk mengantisipasi faktor pemicu / predisposisi   yang berpotensi  menyebabkan kejadian PMK pada kambing dan domba, sehingga dapat menjadi informasi yang berguna untuk menekan penyebarannya.

INTEGRITAS MENUJU KESUKSESAN

INTEGRITAS MENUJU KESUKSESAN

Oleh Dr. drh Euis Nia Setiawati, MP

 

Integritas berarati mutu, sifat atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan; kejujuran. Dengan sikap berkata baik atau diam (silent), hikmahnya dapat mencegah kata -kata yang tidak perlu dan bukan pada tempatnya. Karena kata-kata (ucapan) mengubah urutan DNA (Deoxyribo Nucleic Acid) kita dengan mencipta ulang masa depan, menciptakan kuantum yang memungkinkan kita mengendalikan nasib, yaitu sampai  kepada  sukses atau tidak sukses, sehingga  untuk sampai kepada sukses kita harus dapat mengelola kuantum iman.

Keyakinan dan kejujuran kepada hati nurani  akan mempertajam bashirah atau mata hati, sehingga tidak tersamar antara yang Haq dengan yang bathil. Juga akan menjaga kepekaan bathin  dan  ketajaman citarasa  moral  dalam menjalankan tugas  serta  feeling  etis  dalam menekuni tugas pokok profesi. Sehingga perlu selalu ditumbuhkan geliat hati yang baik, agar tidak  terjadi  bias  nurani  yang  menyesatkan dan  berakhir  dengan  penyesalan. Integritas berkorelasi  dengan  tersedianya  energi dari  dalam dan pola  (template) atau prinsip yang membentuk arah pertumbuhan. Integritas memiliki dimensi kejujuran, moralitas, tanggungjawab, satu kata dengan perbuatan, konsisten terhadap kaidah kesuksesan.

Kejujuran dapat termanifestasikan dalam keceriaan hidup sebagai optimisme yang merupakan proses meneguhkan amal baik menuju visi hidup insan bertaqwa.  Proses tersebut mengisyaratkan adanya  persistensi  atau ketekunan.  Hal ini  merupakan konsekuensi  logis dalam interaksi sosial yang dinamis dan senantiasa tidak lepas dari dimensi istiqamah. Orang yang  mampu  melintasi  godaan  dan  tantangan berkorelasi  dengan  sikap  beristigfar dan tawakkal, meninggikan ketahanan mental dan menjadikan siap melakukan kebaikan.

Koensidensi ada hubungan korelasional dengan kesabaran yang hanya dimiliki oleh orang yang kuat, bermartabat, serta tahan godaan dan ancaman. Perjalanan hidup akan lebih lancar bagi seseorang yang mau menginstrospeksi diri dan menjaga pengaruh negatif dari orang lain dan lingkungan beriklim permisif terhadap sikap koruptif, sehingga terhindar dari kolesterol moral yang merugikan dan mengakibatkan penyesalan. Pergaulan merupakan fakultas kebebasan yang memberikan kurikulum contoh pola dan pilihan hidup.

Orang berintegritas yang memiliki sikap mental positif akan dapat menikmati seni  hidup, karena menghadapi hidup dengan sabar dan syukur serta memilki keyakinan pada potensi diri yang telah dianugerahkan oleh ALLAH Swt. Dengan modal kepercayaan pada diri se ndiri, maka potensi  dapat   dioptimalkan untuk melakukan cita -cita yang lebih besar dan berguna  bagi masyarakat banyak.  Orang  berintegritas memiliki modal  spiritual  (spiritual  capital) yang berkomitmen terhadap tujuan  hidup  yang  mulia serta  standar  moral. Koensidensi,  sikap tersebut  menumbuhkan  program  sikap kreatif pengembangan  diri  mencapai kesuksesan. Dalam arti pula, integritas berkorelasi dengan mindset yaitu pola pikir yang berkelanjutan yang diperkuat dengan keyakinan dan proyeksi sehingga menjadi kenyataan. Dalam hubunga n ini integritas personal dapat menjadi contoh dalam komunitas Role Model pada lingkungan organisasi/institusi dan mengambil sikap tidak terintimidasi oleh lingkungan yang tidak jujur.

Orang berintegritas yang  berpegang  kepada  kejujuran akan memiliki akuntabilitas, dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya secara moral, sosial dan yuridis. Sedangkan orang yang mengalami krisis integritas akan dihantui  oleh rasa was-was, rasa galau, stress, rasa bersalah, atau penyesalan.

Setiap orang  memiliki pilihan tersendiri  dalam menentukan  sesuatu  yang dianggap akan menjadi  sumber  kebahagiaan. Banyak orang  sulit  menentukan  kesalahan yang  dilakukan dirinya sendiri. Kecuali orang yang memiliki Bashirah atau mata hati yang jernih. Mereka yang melakukan perbuatan  tidak pantas atau tidak patut  berarti tidak jujur,  tidak tegas, tidak sungguh-sungguh, dan tidak layak. Dan untuk membangun prestasi KESUKSESAN seseorang disyaratkan untuk  menggerakkan ketajaman ide, membuat prestasi dalam l ingkungan, dan menjaga marwah diri secara konsisten.

Semoga ulasan ini bermamfaat  dan menjadikan  diri kita dapat  menemukan makna dalam hidup,  sehingga menjadi orang yang pandai memetik hikmah setiap saat dari segala kejadian dan melihat kebaikan dalam segala hal, yang giliranya akan  menumbuhkan program sikap kreatif pengembangan diri mencapai kesuksesan

Skip to content